Hits: 0

Warung soto tempatku akan sarapan belum buka, karena memang jadwal bukanya jam 06:30, dan aku sampai di tempat masih jam 06:22, namun pintu warung sudah dibuka, dan aku bisa masuk serta duduk sambil menikmati persiapan-persiapan yang dilakukan sebelum resmi buka jam 06:30.

Di luar kutatap satu pemandangan menarik, serorang bapak yang sangat tua, yang terlihat dari bentuk tubuhnya yang sudah sangat bungkuk, dan kulitnya yang sudah keriput, serta jalannya yang sangat perlahan. Tidak seperti aku, yang meskipun selesai gowes sekitar 1 jam, menempuh jarak sekitar 15 km, namun  saat ini sangat nikmat, duduk santai di dalam warung menunggu soto daging.

Bapak tua renta tersebut sedang bekerja, mendorong gerobak sampah, berdua dengan seorang ibu yang sedikit nampak lebih muda, namun juga sudah terlalu tua untuk melakukan pekerjaan mendorong gerobak sampah. Ibu dan bapak yang sudah sangat tua, masih berjuang mendorong gerobak sampah. Jalan mereka berdua sangat pelan, dan berhenti sekitar 10 meter dari tempatku berdiri, sang  bapak berjalan menyeberangi jalan aspal dan sang ibu berjalan ke sisi jalannya sendiri. Mereka berdua mengambil sampah yang sudah dikumpulkan pemilik rumah di depan halaman. Tong sampah diangkat, perlahan dibawa berjalan menuju gerobak sampah, dan isi tong berupa sampah dituang ke dalam gerobak sampah. Bapak dan ibu tersebut, dengan langkah yang sangat perlahan, kembali berjalan ke lokasi semula tong sampah berada untuk mengembalikan tong sampah kosong. Sangat perlahan dengan badan terbungkuk.Aku terus menjadi pengamat mereka sambil menikmati sarapan pagiku.

Jeruk panas, nasi soto, teh panas, tempe goreng, tahu goreng, sosis Jowo sudah habis aku nikmati dengan badan berkeringat nyaman. Bapak dan ibu tua tersebut masih nampak dari tempatku duduk, mereka mendorong gerobaknya sangat pelan, dan hanya berjalan beberapa meter, langsung kembali mengumpulkan sampah dari tong-tong sampah di depan rumah-rumah. Berkecamuk rasa haru, rasa pingin tahu dan beberapa analisa rasa menatap bapak dan ibu tua itu.

Satu saat aku merasa sangat kasihan atas kondisi mereka, yang sudah sedemikian tua, masih harus bekerja mengumpulkan sampah untuk dibuang entah kemana. Satu saat yang lain,  aku merasa betapa beruntungnya aku dengan kondisiku saat ini dibanding bapak dan ibu tua itu. Satu saat kemudian,  aku berfikir bahwa bapak ibu itu bisa terus sehat karena kegiatan fisiknya, seperti halnya aku yang sering merasakan bugar kembali setelah berkeringat berjalan kaki, yang sebelumnya badan terasa lesu lungkrah. Kurasakan sendiri betapa kegiatan fisik dan berkeringat sering dengan cepat merubah rasa lesu lemah letih lungkrah menjadi kesegaran yang menyenangkan. Satu saat aku ingin menyapa bapak dan ibu itu, untuk menyatakan kekagumanku atas semangat mereka bekerja, dan mohon doa mereka agar aku senantiasa diberikahi semangat untuk mengisi hari-hariku agar bermakna lebih bagi orang-orang di sekitarku.

Banyak gejolak dan keinginan berputar di hati dan pikiran, mencari jalan dan posisi antara keinginan berbuat sesuatu, antara malu, antara acuh. Dan aku merasa beruntung akhirnya hal yang baik yang kupilih, dan aku merasakan syukur yang mendalam, meskipun aku tak tahan untuk menatap bapak tua itu, ataupun banyak bercakap.

Aku bersyukur, aku berani memegang pundak bapak tua itu. Semoga bapak merasakan kekagumanku padamu bapak tua. Semoga Tuhan menjagamu selalu  bapak dan ibu tua yang hebat. Aku belajar dari bapak dan ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.