Hits: 1

Melintasi empat kabupaten dan kodya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, menikmati pesona hijau alam Bantul dan Gunung Kidul, dan ciblon di air yang melimpah ruah di air terjun Gedad Playen Gunung Kidul. Semuanya bisa dilakukan dengan bersepeda.

 

Perjalanan pagi tadi, mengesankan, berangkat dari Gria Gowes di wilayah Kabupaten Sleman, menembus Tugu Malioboro di Kodya Yogyakarta, menyusuri jalan Imogiri Timur  dan jalan Siluk/Selopamioro di wilayah Kabupaten Bantul, kemudian masuk simbang Bibal menuju dusun Gedad,  dan akhirnya sampai di tempat tujuan di Air Terjun Gedad di Kabupaten Gunung Kidul. Gowes yang “hanya” empat puluh kilometer melintas di empat kabupaten/kota di wilayah DIY.

Bukan hanya jumlah wilayah yang dilalui yang menarik, namun terlebih pesona kiri kanan jalan  yang memberikan kesegaran jiwa disetiap genjotan sepeda. Berangkat di kala matahari masih belum beranjak bangun, menyusuri jalanan kota menuju Tugu, dan ikut serta menyaksikan jalan Malioboro yang sudah mulai gemrigah, bangun bersama para wisatawan yang menikmati pagi di sepanjang jalan Malioboro yang terus berhias.

 

 

Keluar dari wilayah Kodya Yogyakarta, kami menyusuri jalan Imogiri Timur yang sudah ramai mobil, motor dan sepeda dari dua arah yang menunjukkan geliat warga beraktifitas, baik untuk bersekolah maupun untuk bekerja di lokasi yang berbeda dari tempat tinggalnya. Lepas dari jalan Imogiri Timur, masuk ke jalan Siluk/Selopamioro, segera kami disuguhi bukit gagah di kejauhan di depan kami yang dibalut kabut putih yang melingkar-lingkar seperti pelukan naga (mas Indul mengatakan bahwa kabut tersebut berada di atas aliran sungai yang meliuki bukit).  Itulah bukit yang nanti akan kami daki.

Mulai dari awal perjalanan sampai SMP Negeri 3 Imogiri, kami menikmati jalan yang terus sedikit menurun, sehingga kami bisa terus berjalan dengan kecepatan  tinggi menurut ukuran saya, dengan tenaga yang tidak begitu banyak,  dan sejak di depan SMP Negeri 3 Imogiri ini, jalan langsung mulai menanjak, menanjak, menanjak dan terus menanjak.

Ini kali kedua saya melalui rute ini dari dari arah yang sama, dan jauh berbeda dengan saat pertama melalui rute ini, dimana saya banyak melakukan kegiatan penuntunan sepeda dan beristirahat, kali ini saya sepenuhnya bisa terus berada  di atas sadel sepeda meskipun dengan kayuhan yang berkecepatan kadang  hampir nol kilometer per jam…alon-alon sambil terus menerus menegok ke fitbit di pergelangan tangan kiri untuk memastikan detak jantung masih dalam rentang aman.

Belok kiri di Simpang Bibal, pesona hijau royo-royo di kiri dan kanan jalan serta kabut putih di pagi hari menambah keindahan gowes pagi tadi, seperti gowes di atas awan kata mas Indul. Sepanjang jalan sejauh sekitar 7 km sampai ke dusun Gedad dominan di kiri dan kanan jalan tanaman pohon Jati, dan di kejauhan jurang sungai yang dalam, yang baru terlihat kedalamannya saat perjalanan pulang kami, karena di saat perjalanan berangkat jurang tersebut  masih tertutup kabut. Nampaknya kabut ini berasal dari atas aliran sungan yang berkelok-kelok seperti punggung ular naga yang melilit pegunungan.

Air terjun Gedad berada di tengah pemukiman penduduk dusun Gedad, masuk dari jalan aspal hanya sekitar 150 meter melalui jalan batuan yang belum diaspal. Saat tiba di lokasi, saya agak sedikit kecewa, karena air terjun yang nampak indah di foto-foto di facebook, hanya terlihat kecil di sisi kanan jalan, berupa batuan warna putih dengan aliran air yang deras. Mas Indul dan saya sempat foto-foto di tempat ini.

 

 

Wah, ternyata kami keliru, air terjun Gedad yang kami lihat di facebook masih berada di depan kami lagi sekitar 10 meter di sisi kiri jalan batu ini, dan luar biasa, memang mengagumkan. Di tengah pemukiman penduduk dusun Gedad, di kabupaten Gunung Kidul yang bagi saya selalu membayangkan tandus kering, terdapat air yang begitu melimpah , yang jatuh dari ketinggian sekitar 20 meter menimpa batu-batu warna putih yang tersusun di didinding bukit kecil, yang membentuk seperti punggung bison putih. Air yang melimpah jatuh dari atas, saling bertumbukan satu sama lain, memantul di batu-batuan di bawahnya meloncat kesana kemari membentuk tabir lembut yang sangat indah dipandang.

Di dasar air terjun dibuat satu kolam kecil, yang membuat air terkumpul sementara sebelum mengalir ke air terjun selanjutnya yang saya lihat pertama tadi, di seberang jaln. Kolam kecil ini menambah keindahan air terjun Gedad, dan memungkinkan bagi pecinta ciblon untuk masuk ke kolam dan berfoto-foto dengan latar belakang air terjun.

Dari ngobrol-ngobrol  dengan pemuda di dusun itu, mendapat cerita bahwa sebelumnya tempat ini adalah lokasi pembuangan sampah penduduk, dan dengan bergotong royong tempat ini dibersihkan, dibuat kolam kecil di bawah, dibuat bangunan jembatan kayu sederhana agar pengunjung bisa lebih nikmat mendekati air terjun, dan jadilah tempat ini menjadi lokasi wisata baru yang  indah. Mengagumkan, satu bentuk partisipasi penduduk setempat dalam memasarkan daerahnya, untuk membuat tempat wisata baru. Satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang luar biasa untuk peka terhadap lingkungan dan menumbuhkan ekonomi kreatif di daerahnya

Selamat menikmati Yogya dengan bersepeda, termasuk rekaman di relive.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.