Hits: 1

Surprise. Nggak nyangka!

Demikian kata-kata pertama yang keluar dari mulut ketika sampai di rumah kembali. Benar-benar tidak menyangka bahwa gowes hari ini akan berjalan seperti ini.

Bermula dari telpon pak Budi WS beberapa hari yang lalu yang membahas rencana pelaksanaan UTUL UM UGM di Pekanbaru, dan diiringi dengan komunikasi selanjutnya mengenai jadwal gowes  alumni T Sipil UGM, pak Budi memberi tahu bahwa hari Sabtu ini, 18 Mei 2013 jam 06:00 kumpul di   Gelanggang Mahasiswa UGM. Sip! Karena hari Jum’at kami akan ke Yogya, jadi hari Sabtu pingin ikutan. Saya bayangkan karena yang ikut gowes bapak-bapak dosen dan para alumni yang sebagian sudah sepuh-sepuh, paling-paling akan keliling seputaran kampus. Ringan….

Bergaya sebelum Jembatan Gantung Ngglanggeran
Bergaya sebelum Jembatan Gantung Ngglanggeran

Sabtu pagi, 19 Mei 2013 jam 05:40 berangkat dari Nandan, dengan persiapan ala kadarnya, bawa minum satu botol aqua 600 ml. Meski sudah beberapa minggu terakhir tidak gowes karena beberapa hari ada kegiatan di luar kota, dan juga ada masalah pada lutut kiri yang nyeri-nyeri, namun dengan asumsi bahwa gowes kali ini akan ringan-ringan saja bersama para alumni yang lebih seputh dari saya, maka tenang-tangan saja. Paling-paling keliling kampus dan jam-janm 8 atau jam 9 sudah balik ke rumah lagi, maka kaosnya pun pakai kaos lengan pendek.

Tiba di Gelanggang Mahasiswa jam enam pagi kurang, sudah terlihat beberapa bapak-bapak yang semangat hadir, antara lain pak Djoko Luknanto, bapak dosen saya waktu kuliah S1 di Teknik Sipil UGM tahun 1982-1987, pak Sugito, mas Joko Sumiyanto dan juga mas Wisnu, alumni T Sipil UGM yang baru saja pensiun dari Chevron. Dan sebentar kemudian datang pak Nizam dan Bu Wati, dosen T Sipil UGM, yang waktu saya kuliah masih seorang dosen muda. Pak Nizam datang langsung membagi-bagi arem-arem ginuk-ginuk..jadi ingat kalau di Rumbai, mas Rosyid yang membawa arem-arem seperti ini.

Poster dari Pak Djoko : http://luk.tsipil.ugm.ac.id/artikel/G4/Nglanggeran.html
Poster dari Pak Djoko : http://luk.tsipil.ugm.ac.id/artikel/G4/Nglanggeran.html

Perjalanan dimulai sekitar jam enam pagi lebih sedikit menyusuri jalan Colombo, Jalan Gejayan, Jalan Solo dan belok ke Selatan dan segera menyusuri jalan Wonosari. Setelah beberapa saat gowes, berhenti di pinggir jalan dan bergabung lebih banyak lagi peserta, seperti mas Don dan Pak Nyoto, dosen saya waktu kuliah dulu.

Ternyata….ya ternyata sungguh berbeda dengan yang saya bayangkan di awal. Perjalanan gowes pagi ini lumayan menantang, selepas dari istirahat. Segera tanjakan-tanjakan di daerah Patuk Gunung Kidul sudah menunggu untuk ditaklukkan. Kombinasi tanjakan yang tajam, dan jalan yang berliku serta ramainya lalu lintas Yogya-Wonosari menjadi satu perpaduan yang bikin ngos-ngosas. Speedometer sering menunjukkan angka 7, 6 atau bakkan 5 km/jam dengan posisi gigi yang ekstrem paling ringan.

Bersama Keluarga Pemilik Warung di Ngglanggeran
Bersama Keluarga Pemilik Warung di Ngglanggeran

Selepas tanjakan Patuk, dan beristirahat sejenak, perjalanan berlanjut ke jalan yang lebih sepi ke arah Gunung Purba Nglanggeran. Dan tanjakan-tanjakan di sini ternyata tidak kalah serunya dengan tanjakan di Patuk. Dan lega rasanya setelah tiba di Nglaggerang, dan makan soto bersama di Mbak Jam. Satu tempat makan yang menawan di tepi hamparan sawah yang sedang hijau di awal masanya.

Pak Djoko Luknanto dan Prof Nyoto yang paling Gaya
Pak Djoko Luknanto dan Prof Nyoto yang paling Gaya

Selesai makan, lanjut gowes ke situs Gunung Purba Nglaggeran, dan berfoto-foto bersama. Suasana foto-foto tidak jauh berbeda dengan kegiatan di Rumbai. Kalau di Rumbai ada mas Rosyid dan mas Fathoni yang sangat rajin memfoto, disini ada Pak Djoko Luknanto yang sangat semangat mendokumentasikan kegiatan dengan kameranya, sambil terus berbicara yang lucu-lucu menyenangkan.

Inilah ujung perjalanan pagi ini, dan merupakan titik balik kembali ke Yogya. Rombongan terbagi dua, satu rombongan akan kembali menyusuri jalan berangkatnya, termasuk mobil pickup yang mengkawal, sedang rombongan lain, termasuk saya akan melalui jalan lain ke arah Prambanan, dengan melewati jembatan gantung, yang tentunya tidak bisa dilewati oleh mobil pickup kami.

Di Ngglanggeran
Di Ngglanggeran

Jalan kembali melewati jembatan gantung ternyata bukan jalan pulang yang nyaman. Turunan dan tanjakan yang luar biasa panjang perlu kami lalui, terutama turunan tajam dan panjang menuju jembatan gantung, dan tanjakan yang tajam, berliku-liku dan panjang selepas dari jembatan gantung. Terasa jauh lebih berat dari jalan berangkat kami, terutama karena kondisi fisik yang sudah lebih lemah dibanding saat awal keberangkatan kami. Dan di beberapa spot, kami semua menuntun sepeda, bahkan pak Nizam perlu beberapa kali bolak-balik untuk menuntunkan sepeda Bu Wati …. )

Ketika puncak tanjakan sudah kami capai, perjalanan menjadi sangat nyaman. Istilah bu Wati, kita sudah kembali ke jalan yang benar. Perjalanan berlanjut menuju jalan Prambanan-Piyungan, dan terus melalui jalan yang datar-datar di Selatan lapangan Udara Adisucipto untuk kembali ke Yogya tercinta.

Perjalanan yang menyenangkan dan wow….terutama melihat bapak-bapak alumni Teknik Sipil, termasuk bapak-bapak dosen yang jauh lebih berumur dari saya, masih begitu semangat bersepeda untuk kebugaran. Sangat inspiratif. Terima kasih bapak-bapak dan ibu Wati.

Salam sehat. Semoga di lain waktu saya berkesempatan gabung kembali.

5 Replies to “Gowes ke Gunung Purba Nglanggeran Gunung Kidul”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.