Nama mbah Maridjan sebagai “juru kunci” gunung Merapi sangat dikenal, baik di daerah Yogyakarta maupun nasional. Beliau terkenal karena tugasnya yang unik sebagai juru kunci gunung berapi yang sangat aktif, keberanian dan juga terkenal saat meninggal dunia kala terjadi letusan Merapi di tahun 2010. Bagi penggemar sepeda yang menyukai tanjakan-tanjakan, mengunjungi petilasan rumah mbak Maridjan menjadi tantangan yang mengasyikkan.

Kumpul di apotik Kenthungan

Kembali, ajakan untuk bersepeda di medan menanjak ditawarkan mas Indul dan dr. Hariyanta. Setelah dua minggu sebelumnya berturut-turut menapaki tanjakan Samigaluh/kebun Teh Nglinggo dan tanjakan Parangtritis Panggang, hari Sabtu ini kami mendaki lereng Merapi ke rumah petilasan mbah Maridjan di desa Kinahrejo.

Keluar rumah jam lima pagi, matahari masih belum hadir, dan hari masih gelap. Mampir Indomart sebentar membeli sarapan dan bekal di jalan, langsung meluncur ke apotik Kentungan tempat janjian berkumpul jam lima tigapuluh pagi.

Pas keluar dari Indomart, mas Anas lewat dengan sepeda kuningnya, dan saya menguntit mas Anas sampai apotik Kentungan. Tiba di apotik Kentungan jam 05:20, belum ada yang datang. Tidak lama kemudian, jam 05:30 datang dr.Hariyanta dan mas Sapto, dan segera kami berangkat  menuju titik kumpul berikutnya di Pompa Bensin pertigaan arah Pakem dan RM Morolejar.

Menyusuri Jakal  dan Jalan Pamungkas di Pagi Hari

Perjalanan melalui jalan Kaliurangn pagi itu kami lalui dengan kecepatan relatif tinggi dibanding kebiasaan saya yang pelan-pelan, karena mengikuti pace mas Anas dan mas Sapto. Dan memang, kecepatan tersebut terlalu kencang untuk saya, dan akhirnya saya memilih mengurangi kecepatan sesuai dengan kemampuan saya.

Jalan Kaliurang yang sudah semakin ramai kami tinggalkan, dan kami belok ke kanan melalui Jalan Pamungkas yang lebih sepi.Gowes ke lereng Merapi memang menyenangkan, mulai dari rumah sampai nanti di akhir perjalanan di tujuan kami, jalan naik terus sedikit demi sedikit dan akan semakin tajam tanjakannya.

Jam enam lebih lima belas, atau empat puluh lima menit sejak kami berangkat dari Apotik Kengungan di simpang jalan Kaliurang dan Ringroad, kami tiba di Pompa Bensin tempat kami janjian bertemu dengan mas Joko Sumiyanto yang berangkat dari rumahnya di sekitar lapangan sepak Bola Minomartani, di sisi Timur Utara Yogyakarta. Kami terlalu cepat 30 menit dari jam janjian kami.

Pakem-Umbul Harjo

Beruntung, di simpang jalan ada penjual bubur kacang ijo, yang langsung menjadi santapan kami pagi itu sambil menunggu kedatangan mas Joko Sumiyanto yang datang terakhir di titik kumpul ini. Sebelum mas Joko datang, terlebih dahulu mas Indul dan mas Kussedi yang baru sepedanya telah datang berkumpul bersama kami.

Segera setelah semua berkumpul dan menikmati bubur kacang ijo, kami bertujuh melanjutkan perjalanan. Tanjakan-tanjakan tajam dan panjang sudah siap kami lahap di depan kami, dan kembali seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya menikmati tanjakan sendirian di barisan paling belakang sesuai irama nikmat saya.

Sambil terus memonitor detak jantung dari tampilan fitbit surge di pergelangan tangan kiri, saya terus genjot pedal mengikuti mas Joko Sumiyanto yang berjalan paling dekat di depan saya, konsisten sampai tempat peristirahatan berikutnya menikmati teh gula batu di pertigaan sebelum Pos retribusi Wisata Volcano Guntung Merapi.

Luar biasa nikmatnya menyeruput teh bergula batu di pagi itu saat nafas sudah ngos-ngos dan keringat bercururan.

Umbul Harjo-Kinahrejo

Lanjut lagi perjalanan kami menapaki tanjakan-tanjakan yang lebih tajam lagi dan panjang, hampir sepenuhnya berupa tanjakan, diselingi jalan agak menanjak. Rasanya nggak ada yang datar, apalagi menurun… 🙂

Jeep-jeep wisata sudah mulai banyak sliwar-sliwer di jalan ini, dan di beberapa pos Jeep wisata terlihat ramai rombongan wisatawan yang akan memulai petualangannya menggunakan jeep. Yogya memang luar biasa, meskipun bukan masa liburan, namun wisata-wisata rombongan masih ramai juga.

Melewati pos retribusi dan simpang menuju Plunyon, kami terus naik sambil menikmati puncak gunung Merapi yang sangat gagah dengan guratan-guratan hitam di leher dan dadanya, yang sebagian diselimuti gumpalan awan putih yang terus berjalan menjilati leher Merapi. Puncak Merapi yang “kroak”, terus terlihat sepanjang perjalanan kami, yang tak tersentuh jilatan awan-awan putih yang seakan tak mampu mendaki naik ke puncak Merapi.

Pos pemberhentian kami berikutnya di warung teh setelah simpang jalan pos Jeep terakhir, atau tempat parkir mobil wisatawan,  sebelum masuk ke jalan akhir menuju ke petilasan rumah mbak Maridjan. Kami berhenti sejena, kembali ngeteh sambil ngobrol menikmati puncak Merapi.

Etappe terakhir menuju puncak perjalanan kami hari itu tinggal sekitar satu kilometer, namun dengan tanjakan tanjakan yang “ndengkek”, istilah mas Indul. Pantat saya letakkan agak ke belakang, agar roda sepeda dengan tetap bisa terletak di aspal menapai jalan naik ini. Rombongan wisatawan yang berjalan kaki banyak kami temui di segmen terakhir ini.

Akhirnya, tibalah kami di petilasan rumah mbak Maridjan, yang menjadi tujuan wisatawann yang ingin menikmati bekas-bekas libasan lahar panas di tahun 2010 berupa sisa-sia rumah mbak Maridjan, bangkai sepeda motor yang gosong tersapu lahar, dan juga kita bisa menikmati puncak Gunung Merapi dari menara pandang di tempat itu.

Total jarak perjalanan dari Gria Gowes sampai di petilasan rumah mbak Maridjan ini sejauh 24 km dari elevasi 160m di Gria Gowes sampai elevasi 1060 di petilasan rumah mbah Maridjan ini. Menyenangkan.

Sedikit Mengenal mbah Maridjan (sumber Wikipedia)

Raden Ngabehi Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan (nama asli: Mas Penewu Surakso Hargo; lahir di Dukuh Kinahrejo, 5 Februari 1927 – meninggal di Sleman, 26 Oktober 2010 pada umur 83 tahun[1]) adalah seorang juru kunci Gunung Merapi. Amanah sebagai juru kunci ini diperoleh dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Setiap gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando darinya untuk mengungsi.[butuh rujukan]

Ia mulai menjabat sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Jabatan sebagai juru kunci lalu ia sandang sejak tahun 1982.[butuh rujukan]

Sejak kejadian Gunung Merapi akan meletus tahun 2006, Mbah Maridjan semakin terkenal. Karena faktor keberanian dan namanya yang dikenal oleh masyarakat luas tersebut, Mbah Maridjan ditunjuk untuk menjadi bintang iklan salah satu produk minuman energi.

Pada tanggal 26 Oktober 2010, gunung Merapi kembali meletus disertai awan panas setinggi 1,5 kilometer.[2] Gulungan awan panas tersebut meluncur turun melewati kawasan tempat mbah Maridjan bermukim.[3] Jasad Mbah Maridjan ditemukan beberapa jam kemudian oleh tim SAR bersama dengan 16 orang lainnya telah meninggal dunia, umumnya kondisi korban yang ditemukan mengalami luka bakar serius. Jenazah tersebut dikonfirmasi sebagai jenazah Mbah Maridjan pada tanggal 27 Oktober 2010.[4]

Perjalanan kembali ke Yogya

Kenikmatan gowes ke arah Merapi adalah titik puncak ujung akhir perjalanan menjadi seperti titik finish, karena meskipun perjalanan kembali ke rumah masih separonya lagi secara jarak, tapi hampir sepenuhnya akan bisa dilewati tanpa perlu mengayuh sepeda, karena jalan akan terus menurun. Berbekal konsentrasi dan rem, akan terus meluncur sampai rumah.

Dua pilihan sarapan kami pagi itu adalah Kopi Klothok Pakem dan Warung Jamu Herbali di pinggir jalan Kaliurang, dan akhirnya pilihan kedua, Warung Jamu Herbal yang menjadi tempat kami menikmati sarapan.

Menu pesanan es rosella dan tempe goreng tempung dengan sambel kecap mengawali sarapan kami, sebelum hadir menu nasi pecel dan telur goreng serta tempe goreng serit yang memuncaki gowes kami pagi itu.

Terima kasih untuk mas Kussedi yang mentraktir kami semua di warung itu..semoga berkah dengan sepeda barunya F8 yang gagah, segagah mas Kussedi.

Warung jamu Herbal menjdi titik akhir perjalanan kami bersama, sebelum kami melanjutkan perjalann turun ke rumah masing-masing, melewati rute masing-masing dengan kecepatan meluncur masing-masing. Dan tetap konsisten, saya berada di barisan paling belakang, karena lebih dalam melakukan pengeremen di turunan jalan Kaliurang yang sudah semakin ramai.

 

Read: 136 times.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.