Menikmati Yogyakarta dengan Sepeda

Gedung Pusat UGM
Gedung Pusat UGM

Banyak tempat menarik di Yogya. Banyak cara menikmati Yogya. Dan salah satunya yang kami pilih sore itu, Sabtu, malam Minggu, 29 Maret 2014 adalah menjelajah Yogya di sore hari dengan sepeda bersama rombongan dari Pekanbaru, dipandu oleh mas Mayong, mas Harun  dan mas Bayu yang hafal jalanan Yogyakarta.

Sekitar jam 15:30, diiringi gerimis kecil kami berangkat dari Nandan, menuju ke ke gedung Pusat UGM melalui Pogung Baru dan Mbarek, melintasi daerah yang penuh dengan rumah-rumah kost. Sesi foto-foto diawali di Gedung Pusat UGM, dimana mas Mayong dan mas Bayu sudah menunggu, terus lanjut foto-foto di Layanan Sepeda UGM, yang menyadiakan banyak sepeda, di beberapa tempat di lingkungan kampus UGM, untuk bisa digunakan, dan bisa dikembalikan di “stasiun” manapun, tidak perlu kembali ke tempat peminjamannya.

Sepeda di UGM (Foto by: Mas Afif)Sepeda di UGM (Foto by: Mas Afif)
Sepeda di UGM (Foto by: Mas Afif)

Perjalanan berlanjut ke Fakultas Ekonomi, berfoto di depan Tower Pertamina, karena kebetulan putra bang Fed kuliah di Fakultas Ekonomi UGM. Bagus juga kalau UGM membuat paket wisata kampus, dan tiap-tiap fakultas memiliki tempat “keramat” buat nampang foto, sehingga tiap orang, yang ingin berfoto bisa menuju tempat-tempat yang sudah “dikenal”. Banyak orang tua/keluarga dari mahasiswa, yang ingin ikut serta merasa gembira dan bangga dengan berfoto di tempat kuliah putra-putrinya.

Stasiun Sepeda UGM (foto by: Mas Afif)
Stasiun Sepeda UGM (foto by: Mas Afif)

Beberapa tempat lain yang kami kunjungi adalah Fakultas Kedokteran, Masjid Kampus dan Bundaran UGM dengan logo tulisan Universitas Gajah Mada. Bagi warga kampus UGM, atau bahkan warga Yogya, UGM bukan tempat yang digunakan untuk wisata, namun bagi warga luar Yogyakarta, wisata di dalam kampus UGM merupakan pilihan yang menarik juga.

 Perjalanan berlanjut menuju Tugu, kembali berfoto bersama di Tugu, sebelum berjalan kembali kearah Selatan menyusuri jalan Mangkubumi, dan masuk ke Jalan Maliboro yang Sabtu sore itu, sangat ramai, mungkin karena long weekend, banyak wisatawan. Tak lupa berfoto di ujung Utara Jalan Malioboro, di papan tulisan Jl. Maliboro.

Bergaya di Malioboro
Bergaya di Malioboro

Cukup menantang menembus keramaian Malioboro sore itu, yang dipenuhi dengan berbagai moda transportasi, mulai dari becak, andong, sampai orang-orang yang berjalan bersliweren di jalur lambat. Sepeda-sepeda kami terus memekakkan keramaian dengan bunyi bel sepeda, kring-kring-kring, untuk menguak, menerobos keramaian sampai berhenti berfoto kembali di depan Gedung Agung.

Tepat saat memasuki Alun-alun Utara, tiba-tiba turun hujan yang lumayan lebat, dan kesempatan bagus untuk berteduh di tempat penjual bakso dan wedang ronde. Bukan hanya bakso dan wedang ronde yang kami nikmati, masih ditambah kacang rebus dan jagung rebus di tengah-tengah hujan, dipinggir Alun-alun Utara.

 Sesaat setelah hujan reda, perjalanan berlanjut menuju Alun-alun Selatan, melewati Sentra Gudeg Wijilan. Alun-alun Selatan sore itu sudah ramai, dengan mobil-mobilan  sewa yang dikayuh oleh pengemudinya, dengan hiasan-hiasan lampu yang meriah mengelilingi alun-alun.

Keraton Yogyakarta memiliki dua buah alun-alun, yaitu alun-alun Utara yang berada di depan keraton, dan alun-alun Selatan yang merupakan halaman belakang kediaman Raja Jogja Ada tradisi menarik di alun-alun Selatan ini yang masih berlanjut sampai sekarang, dan kamipun berkesempatan mencobanya yaitu permainan Masangin, singkatan dari masuk dua beringin dengan mata tertutup.

Gambarannya, ditengah-tengah alun-alun Selatan terdapat dua buah pohon beringin kembar. Dan peraturan permainan Masangin ini sangat sederhana, dimana peserta cukup berdiri dari jarak sekitar tiga puluh meter di depan Sasono Sasono Hinggil, kemudian menutup kedua matanya dengan kain yang tersedia/disewakan di lokasi, lalu berjalan menuju tengah-tengah ringin kurung (dua beringin di tengah alun-alun). Sangat sederhana, dan kelihatan sangat mudah, karena jarak antara dua pohon beringin tadi sangat lebar, jadi mudah untuk diterobos, asal kita berjalan lurus.

Alun-alun selatan
Alun-alun selatan
Makan malam di depan SMA 3 Yogya
Makan malam di depan SMA 3 Yogya

Beberapa teman kami sempat mencoba, dan lucu-lucu kejadiannya, ada teman yang pertama kali mencoba, langsung miring, menabrak pelindung pohon di sebelah kiri, kemudian saat percobaan kedua gantian menabra pelindung pohon di bagian kanan. Dia bilang, bahwa belajar dari pengalaman pertama yang miring ke kiri, maka dia berusaha sedikit memiringkan ke kanan, ternyata terlalu miring.

Ada juga yang sampai melenceng jauh ke arah kanan, menjauhi kedua pohon beringin, dan yang lebih seru lagi, ada satu teman yang sebelum sampai di kedua pohon tersebut, tanpa disadarinya melakukan gerakan memutar, sampai mengarah menjauhi kedua pohon tersebut, dan hampir kembali ke tempat dimana dia memulai perjalanan tadi.

Ceritanya,  hanya orang yang jujur dan berhati bersih yang bisa tembus melewatinya. Dalam pemahaman saya, kadang dalam hidup kita tidak sadar, telah berjalan miring  sedikit menjauh dari sasaran kita, dan bisa terus menjauh tanpa menyadarinya.  Maka usaha keras untuk meraih tujuan, diperlukan terus menerus mata hati yang bersih melihat ke sasaran dengan terus mengasah ketajaman dengan banyak berdoa.

Dan kegiatan bersepeda sore/malam hari ini dengan jarak tempuh total 23,78 km, sebagai pemanasan sebelum gowes ke Kinahrejo Minggu pagi,  ditutup dengan makan malam bersama nasi goreng daging sapi di trotoar depan SMA Negeri 3 Yogya. (Dokumentasi di everytrail: Yogya Kota)

 

 

Read: 58 times.

You May Also Like

4 thoughts on “Menikmati Yogyakarta dengan Sepeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: