Hampir seluruh bagian dunia mengalami pandemi. Hampir semua orang terganggu aktivitas yang bisa dilakukan dengan nyaman. Termasuk kegiatanku bergerak. Bersepeda. Reaksi atas kondisi itu yang menarik dan penting untuk membedakan kelangsungan kehidupan. Pandemi menyebabkan ambyar. Kondisi yang sulit bisa menjadi amplas yang bisa membawa ke kondisi ambruk terus ambles atau ambyur dan semakin ampuh.

Ambyar

Pandemi covid19 membuatku was-was? Iya! Pandemi cogid19 mengganggu kegiatanku sepedaan? Iya.  Pandemi covid19 sempat menjadi batu sandungan dalam kegiatan bersepeda.

Awal-awal masa pandemi terjadi keraguan. Bagaimana sebaiknya. Banyak sekali informasi pating sliwer yang membingungkan.

Saya memiliki target bulanan bergerak sejauh 500 km/bulan, baik dengan bersepeda maupun jalan kaki. Lebih banyak bersepeda sih. Dan dua bulan saat awal pandemi , Maret dan April 2020, target tersebut tidak  bisa saya penuhi. Hanya sekitar 300an km di dua bulan tersebut. Sekitar 65% dari target.

Ambyar! Ampek!

 

Amplas

Selama bulan Maret dan April saya merasa seperti diamplas. Ugak-ugek, gosok sana gosok sini dari informasi-informasi yang saya terima. Nasehat itu, nasehat ini. Mencerna.

Ada satu pedoman yang saya gunakan. Pilih informasi yang berguna dan buang informasi yang membuat lebih memperburuk suasana.

Contoh informasi yang memperburuk dan saya abaikan adalah: keluhan-keluhan, menyalah-nyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain. Hal-hal negatif yang lebih banyak berkutat di luar lingkaran pengaruh. Lebih pada circle of concern. Buang!

Saya memilih informasi yang fokus pada lingkaran pengaruh. Hal-hal yang bisa kulakukan. Informasi yang menyemangati, yang menyenangkan dan memberi gambaran alternatif solusi. Beruntung di salah satu WAG sepedaan ada beberapa teman dokter, seperti dokter Bhir, dr. Har, dr. Wowo dan dr. Komar yang rajin share-share informasi kesehatan yang pas saya butuhkan. Karena mereka dokter dan sekaligus pesepeda. Dan sering sepedaan bareng. Jadi klik. Pas. Juga teman-teman lain yang terus semangat berolahraga seperti Prof Budi, mas Anas, mas Herbod, mas Benny, mas Indul, mas Luddy.

Juga sering lihat-lihat facebook dan IG teman-teman yang terus semangat bergerak, berolah raga dengan cara-cara yang lebih aman dan menyenangkan.

Fase amplas ini, menjadi fase gemblengan yang semakin mempertajam keyakinan apa yang perlu dilakukan. Ini fase yang sangat menentukan, Saat menjalani masa pandemi ini akan mengarah dari ambyar ke ambleg lalu ambles atau dari kondisi ambyar ke ambyur dan menjadi lebih ampuh.

Ambyur

Melalui proses mencerna informasi dan melakukan assessment pribadi, pada akhirnya bisa menemukan kegembiraan-kegembiraan baru dengan cara baru. Ambyur bergerak. Awalnya dengan lebih intensif melakukan jalan cepat di pagi hari di sekitaran rumah, sepedaan santai di sekitaran rumah, kemudian  bersepeda statis di rumah, sampai bersepeda virtual dengan aplikasi zwift di rumah.

Semangat untuk terus bergerak dan berjemur. Ambyur. Dan ternyata hasil di bulan Mei luar biasa, tidak hanya mencapai target bulanan 500 km/bulan, namun bisa mencapai 900 km di bulan Mei.

Awal Juni mulai sepedaan keluar lagi dengan protokol kesehatan yang aku yakini. Karena di rumah lebih rutin bersepeda statis, bersepeda ke Pakem jadi terasa lebih nyaman. Lebih segar. Tentunya dengan ukuranku. Yang gowes santai pol.

Ada satu teman yang usianya sekitar 65 tahun,  mas Heru, atau teman-teman memanggail mas Herbod. Sebelum pandemi beliau sama sekali tidak bisa memfoto. Selalu minta tolong teman. Nah, saat pandemi. Dia WAG dia kirim-kirim foto-fotonya selfie. Dan tambah lagi sekarang sudah bisa mentract kegiatannya menggunakan Strava. Tambah pinter banget.

Ambyur. Ampuh.

Catatan Gowes Masa Pandemi
Catatan Gowes Masa Pandemi

 

Pandemi yang terjadi pada diri kita saat ini memang nyata dan menimpa siapa saja. Tapi yang lebih penting adalah response kita. Reaksi kita dalam mensikapinya. Sebagai makhluk yang diberi Tuhan anugerah kehendak bebas dan kebebasan untuk memilih, diri kita sendiri selalu menjadi yang utama untuk menentukan ingin jadi apa kita dalam mensikapi kondisi ini.

Selamat memilih.

Ambyar, ampek, ambruk terus ambles? Atau Ambyar, ampek ambyur, terus soyo ampuh? Selalu peka pada kehendak Tuhan, dan semoga Tuhan memberkati pilihan kita.

Pilihan ada di diri kita sendiri.

Read: 24 times.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.