Sabtu adalah hari bahagia. Hampir setiap Sabtu sepedaan rame-rame, ketawa-ketawa, saling tinggal dan tunggu sambil cengar-cengir ngece dan tentunya nongkrong di warung makan bareng sambil ejek-ejekan menyenangkan. Meskipun seperti biasa kemarin malam rame bertukar kata di WA, apa rencana sepedaan besok pagi, saling menyampaikan rencana sepedaannya, dan akhirnya berkesimpulan masing-masing sepedaan sendiri-sendiri sesuai kenikmatan sendiri-sendiri. Dr Har, bang Yos, mas Anas, Prof Budi ngalor. Dr. Komar  dan mas Indul ngidul, dr. Wowok dan istri ngulon. Beda-beda semua berusaha sehat.

 

Gowes SendirianSesuai rencana, pagi tadi mulai mengeluarkan sepeda lagi setelah dua hari istirahat karena sedikit flu. Kalau biasanya, meskipun flu tetap saja sepedaan, karena sudah punya jalur khusus, jalur masuk angin. Artinya kalau lagi kurang enak badan, sepedaan di jalur itu. Nyaman, naik ke Pakem sekitar 12 km, sekitar 1 jam. Langsung turun Dan badan biasanya langsung seger.

Tetapi berbeda dengan dua hari kemarin. Dalam kondisi pandemi corona ini, saya memilih istirahat di rumah saat agak flu. Pagi tadi setelah badan jauh lebih enak, mulai lagi sepedaan.Dekat-dekat saja, keliling rumah. Berusaha untuk sehat.

Suasana memang terasa agak berbeda. Sepi. Bagus. Tidak ada orang bergerombol-gerombol. Bagus. Hanya sayang di lampur merah, motor-motor berhenti masih berdekat-dekatan. saya memilih untuk berhenti agak jauh dari lampu merah. Terus menjaga social distance 2 meter.

Menurut referensi yang saya baca How to Ride Safely Amid Coronavirus Concerns ,  berkegiatan di luar, terkena paparan matahari, tetap  memberi manfaat yang baik di situasi sekakarang ini.  Sepedaan hari ini, saya berusaha mencari jalur-lajur yang terkena banyak paparan matahari. Rasanya koq nyaman banget pagi tadi bersepeda panas-panas dikit.

Selama bersepeda terus mengingat-ingat juga social distance itu. Kalau biasanya akrab-akrab menyapa pesepeda lain, ketika menyalib. Meskipun saya jarang menyalib. Lebih sering disalib. Kali ini jadi acuh. Menyalib ya dilalui saja, tanpa hai hai.hai..monggo mas..ngrumiyini mas…. Paling sedikit melambai.

Kebetulan tadi di jalan kaliurang, waktu saya jalan ke arah Utara, ketemu bang Yos yang baru turun dari Pakem….Nggak tahan juga, teriak..Bang Yos!@ sambil melambai. Seneng ketemu sahabat gowes yang biasanya gowes sama-sama, ngobrol sana-sini.

Semoga pandemi corona bisa segera diatasi dan kita semua bisa melakukan kegiatan-kegiatan bersama lagi.

Social Distance

Acuan saya bersepeda di saat pandemi ini. Mohon bantuan teman-teman jika ada yang keliru agar saya diberitahu agar bisa saya ubah.

 

  1. Tetap melakukan kegiatan bersepeda untuk meningkatkan sistem imun tubuh. Membuat lebih bugar dan segar
  2. berusaha mencari paparan sinar matahari pagi
  3. Bersepeda secukupnya yang pas tidak terlalu capek. Cukup untuk fight to fit yang relatif ringan saja
  4. Patuh pada anjuran  social distancing atau physical distanceing Jaga jarak interaksi 2 meter dengan orang lain.
  5. Bersepeda sendirian
  6. Berusaha melewati jalur yang relatif sepi
  7. Tidak ikut bergerombol di lampu merah. Mengambil jarak agak jauh dari rombongan yang menunggu lampu hijau. Ingat social distance. Ingat physical distancing. Ingat jaga jarak
  8. Tidak perlu menyapa atau berteriak saat disalib atau menyalib teman sepedaan lain
  9. Tidak membuang ludah atau ingus di sepanjang jalan
  10. Jika memang ketemu teman, di manapun, tetap ingat social distance. Mungkin memang agak kikuk, terasa kaku dan seperti tidak grapyak semanak, tapi ya ini pilihan.
  11. Ketika bertemu siapapun selalu berasumsi bahwa diri saya membawa virus dan saya tidak ingin menyebarkan ke orang lain, dan berasumsi orang lain itu juga membawa virus, dimana saya tidak ingin terkena juga.
  12. Pakai kacamata dan masker penutup hidung dan mulut.
  13. Sampai rumah langsung ganti baju, mandi dan semua perlatan di sterilkan (kacamata, jam dan Handphone)

Ada teman yang memberi saran, tetap saja di rumah, Tidak usah bersepeda dahulu, karena resiko terkena semburan droplet di jalan tetap bisa terjadi sewaktu-waktu.

Beberapa asumsi berdasarkan referensi dari How to Ride Safely Amid Coronavirus Concerns

Apakah aman bersepeda di luar ?

Ya. Pada kenyataannya lebih aman berada di alam terbuka dibanding di dalam ruangan dilihat dari sisi penyebaran virus. Penyebaran virus terjadi ketika orang saling berdekatan, dan orang yang bervirus batuk atau bersin, yang mengeluarkan droplets yang bisa langsung masuk ke hidung/mulut/mata orang orang. Atau droplets tersebut menempel di benda sekeliling. Dan ketika ada orang lain menyentuh benda tersebut, kemudian tangan yang menyentuh benda tersebut menyentuh mukanya. Sangat potensial bisa masuk melalui hidung, mulut atau telinga.

Gowes yang disarankan saat pandemi ini adalah gowes sendirian. Ride Solo dan nikmati kesegaran udara di luar.

Berolah raga, bersepeda 30-60 menit dapat meningkatkan imunitas tubuh untuk bisa melawan virus. Tetap harus paham kondisi sekitar, dimana kita akan bersepeda. Jika ada larangan masuk ke suatu daerah, atau anda diwajibkan untuk dikarantina, patuhilah.

JIka diri anda sakit, atau memiliki resiko bisa menyebarkan virus, anda harus di rumah. Tinggal di rumah dan jangan gowes dulu. Saat di karantina, lakukan olah raga di rumah untuk tetap menjaga kebugaran.

Apakah sistem imun/daya tahan tubuh menjadi lebih lemah setelah melakukan latihan yang berat?

Ya, beberapa jam setelah kita melakkan kegiatan gowes yang sangat keras atau suatu lomba yang memakan energi besar, sistem imun/daya tahan tubuh kita menurun. Meskipun untuk jangka panjang dengan latihan yang terus menerus akan meningkatkan sistem imun kita. Artinya, disaat pandemi virus corona ini, disaat kemungkinan kita bisa terpapar virus tersebut sewaktu-waktu, disarankan untuk tidak melakukan kegiatan gowes yang terlalu berat. Gowes yang asyik-asyik, yang fun-fun yang tidak terlalu membuat letih. jangan terlalu diforsir, agar kita tetap bugar dan sistem imun selalu terjaga dan malah bisa terus meningkat.

Jika ada event sepedaan yang tidak di cancel, apakah boleh ikut?

Pasti terasa berat, kalau sudah latihan terus buat ikut suatu event, dan event tetap dilaksanakan, mosok nggak ikutan? Ya iya lah..tetap pilih TIDAK ikut. Bantu orang lain, bantu dirumu sendiri untuk memperkecil potensi penyebaran virus gara-gara kumpul-kumpul banyak orang.

 

Jika ada event resmi yang dibatalkan, tapi teman-teman ngajak bareng-bareng menjalani rutenya, apakah boleh ikut?

Pilihan ada di dirimu. Pertimbangan utama adalah membantu menghentikan penyebaran virus yang sangat mudah menular ini. Anggap saja dirimu sebenarnya sudah membawa virus itu, tapi karena dirimu kuat, maka dirimu tidak sakit. Namun dirimu punya potensi untuk menyebarkan ke orang lain. Jadi bantulah orang-orang lain agar tidak tertular dengan cara tidak berinteraksi dahulu dengan orang lain. Apalagi dengan banayk orang. Jadi jangan ikut sepedaan bareng-bareng dulu. Meski itu menyenangkan dan biasa dilakukan, untuk saat ini sepedaan sendirian dulu saja lah.

Read: 55 times.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.