Setiap langkah dan setiap kayuhan adalah cerita, seperti halnya setiap nafas adalah anugerah sang Kuasa. Ada cerita yang tak berbekas, ada cerita yang termaknai menjadi kisah pribadi dan kisah bersama untuk saling menyemangati serta mensyukuri banyak anugerahNya. Satu kisah yang dicopy apa adanya dari facebook mas Akson Brahmantyo, ya apa adanya, karena memang indah adanya apa dari yang ditulis mas Akson dari catatan makna kayuhan sepedanya saat mengikuti Gowes Merdeka 2016, akan bisa menjadi bahan ajar bagi yang bersedia hidup belajar.

 

“Ada rencana ikut Gowes Merdeka, mas ?” tanya bang Abrar, “Pengen sih, cuma riweh, sepeda masih di Duri dan nggak ada kesempatan untuk menservise “ kilahku. “Khan bisa sewa” balasnya. Oh..iya pula ya, tapi entahlah.

Kondisinya masih belum tertata. Sejak memulai penugasan baru di Jakarta ini, masih sibuk antara mengurus transisi organisasi baru, hand over pekerjaan ditempat yang lama, memastikan transisinya mulus, dan musti bolak-balik Jakarta- Duri, pokoknya itu tadi riweh. Itu sekitar 3 bulan yang lalu.

Kira kira 3 minggu menjelang hari H

“Mas Akson nggak mau ikut Gowes Merdeka ?” bisik mas Pambuka Adi, kebetulan saya duduk di sebelahnya dalam sebuah meeting cross function. “Mungkin sudah telat daftar mas” jawab saya.
“ Masih bisa mas, kebetulan ini hari terakhir pendaftaran,kalau mau saya bantu daftarin “ mas Pambuka menawarkan. Sebetulnya week end hari H untuk Gowes Merdeka adalah jadwal saya pulang ke Pekanbaru. Tapi kebetulan hari Selasa – Rabo nya, saya ada jadwal tugas ke Sumatera, bisa jadi subtitusi week end untuk gowes nih. Tanpa pikir panjang saya bilang mas Pambuka,”boleh mas di daftarkan”. Sejak hari itu jadilah saya terdaftar sebagai peserta Gowes Merdeka. Dan masuklah saya dalam distribution list peserta, serta mulailah mengalir informasi dan diskusi seputar persiapan pelaksanaan gowes Merdeka, memenuhi inbox saya.

“Sudah siap mas ?” tanya mas Hari Setyono waktu ketemu di hall way, “Apaan ?” sahut ku
“ itu gowes merdeka, lumayan juga lho 125 km” lanjutnya. “Hah,….masak iya ?” kataku
“Iyalah ,…itukan melewati 4 Kabupaten, Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten “

Waduh,..memang sudah banyak lalu lintas informasi mengenai gowes merdeka ini, tapi lewat lewat saja, aku cuma memastikan kewajibanku sebagai peserta sudah aku tunaikan, misalnya menganti uang pendaftaran ke mas Pambuka, bayar penginapan, sewa sepeda dll. Program gowesnya sendiri Dalam benakku seperti biasanya kalau AXICBic punya program gowes outside, yang kurang lebih 40 Km. Banyak foto-foto, seperti itulah.
125 km..? ini lebih jauh dari rekorku ikut gowes Charity Ride “ Minas – Duri “ yang cuma 100 Km. Tapi mau gimana lagi sudah terlanjur daftar, ya sudah Bismillah saja…………..

Tanpa persiapan khusus, Jum’at malam 12 Agustus 2016 saya bareng bang Abrar terbang dari bandara Soeta ke Yogja.  Mendarat di bandara Adi Soemarno, anaknya yang no dua sudah menjemput. Saya diantarkan ke tempat penginapan di Gria Gowes – Nandan.

Sampai di penginapan ketemu teman-teman goweser AXICBic dari Sumatera yang sudah sampai duluan, Kemudian check sepeda sewaan, karena datangnya belakangan maka pilihannya sudah nggak banyak tinggal tersisa 2 sepeda saja yang belum di claim. Untungnya dari 2 sepeda yang tersisa ukurannya sesuai dengan yang saya minta yaitu S. Setelah menjatuhkan pilihan pada sepeda yang akan di pakai besok pagi, langsung istirahat, tidur .

Hari H

Sehabis subuh rombongan AXICBic berangkat menuju hotel Alana yang merupakan lokasi start awal Gowes Merdeka, Hujan lebat semalam yang sempat membangunkan tidur pulasku masih menyisakan gerimis. Rintik hujan tak menghalangi rombongan menuju hotel Alana yang tidak jauh dari penginapan.

Hotel Alana Yogya
Hotel Alana Yogya

Banyak peserta yang sudah hadir di Hotel Alana, total peserta yang terdaftar sekitar 180, aku sendiri mendapat nomer urut 171, ini nomer mempunyai arti khusus buatku karena rumah pertama kami juga bernomer 171. Peserta yang sudah hadir diminta untuk re-regristrasi, untuk mendapatkan informasi jumlah peserta yang akan benar-benar melakukan Gowes hari ini, karena hal inipenting berhubungan dengan pengaturan logistic dan komsumsi.

Sebelum acara Start di hotel Alana Yogya
Sebelum acara Start di hotel Alana Yogya

Foto-foto Saat start di Hotel Alana

Sambil menunggu acara seremoni pemberangkatan,peserta bisa sarapan dulu dengan aneka snack yang sudah disediakan panitia,. Ada pisang rebus, arem- arem, kue-kue, serta minuman panas, kopi, teh, dll.

Anggota AXICBic meggunakan kesempatan ini tidak hanya untuk mengisi KKalori tapi juga untuk memenuhi target Kbyte,dengan berfoto-foto.

Tepat pukul 06:00, rombongan diberangkatkan, sisa gerimis masih belum habis, mendung masih menggantung dilangit berarak seolah mengikuti kayuhan para goweser menuju Muntilan yang merupakan etape pertama.

fullsizerender-6Selepas garis start, aku masih bisa gowes dalam satu kelompok bersama kawan-kawan AXICBic, tetapi setelah gowes 45 menit sudah mulai terasa akibat kurangnya persiapan, aku sudah lama nggak gowes mungkin sekitar 4 -5 bulan, bahkan setahun belakangan , meskipun masih gowes tetapi hanya sekali-sekali nggak rutin lagi. Pace ku nggak bisa lagi mengikuti pacenya kawan-kawan, satu persatu mereka mulai membuat jarak, dan untuk perjalanan jarak jauh seperti ini, aku musti mengatur agar bergerak dalam pace yang pas untukku kalau tidak maka stamina akan cepat terkuras habis. Akibatnya aku semakin jauh tertinggal.

Dengan pengaturan pace yang pas dan secara regular kupaksakan untuk minum meskipun tak terasa haus, mungkin karena gerimis yang terus mengguyur sepanjang perjalanan, akhirnya bisa kuselesaikan juga etape 1, Yogja – Muntilan sejauh 23 km dengan kontur elevasi yang sedikit menanjak dari elevasi sekitar 120 mdpl ke 400 mdpl. Sampai di PIT STOP-1 kawan kawan AXICBic sudah pada istirahat sambil sibuk berfoto dan menikmati lemet serta pisang rebus yang disediakan panitia. Kugunakan kesempatan istirahat di Pit Stop 1 ini untuk sekalian menambah bekal air minum.

Belum cukup rasanya istirahat kawan-kawan sudah pada mau berangkat menyelesaikan etape 2, Muntilan – Talun yang berjarak 9 km, tetapi perubahan elevasinya sekitar 300 m, kebayang sudah tanjakan-tanjakannya. Dietape ke2 ini hanya membutuhkan beberapa saat saja sebelum kawan-kawan mulai meninggalkanku. Jurus sakti dari pakdhe bahwa 2 meter kedepan nggak ada tanjakan, dan atur roda gigi sesuai dengan kekuatan, sudah diterapkan sejak awal, tetapi ada beberapa kondisi dimana roda gigi sudah nggak bisa diatur lagi agar lebih ringan. Mau nggak mau agak memaksa dengkul agar sepeda masih mau bergerak maju.

Sepanjang jalan gerimis tak kunjung reda, membuat jalanan basah dan mencengkeram roda membuatnya semakin berat untuk berputar. Akhirnya etape 2 inipun bisa kulalui tanpa turun dari sadel sepeda meskipun menyisakan nyeri di dengkul sebelah kiri.
Sampai di Pit Stop 2, kawan-kawan sudah pada sibuk berfoto-foto dan menambah tenaga dengan makan pisang yang disediakan panitia, pisang bagus karena disamping memberikan tenaga, kandungan kalium nya bisa mencegah kram otot.

Etape 3. Talun – Gowok Sabrang, sepanjang 6 km dengan beda elevasi sekitar 350 mdpl ,menurut mas Pambuka merupakan trek yang paling berat. Setelah cukup istirahat dan menambah bekal air minum, kulanjutkan perjalanan , aku tidak lagi mencari-cari teman AXICBic, aku tahu mereka sudah ngacir duluan, memang harus seperti itu harus menjaga pace masing-masing. Semua peserta Gowes Merdeka adalah teman seperjuangan.

Foto-foto selama perjalanan

 

Cuaca masih belum bersahabat, kabut dan mendung menutupi keindahan lereng Gunung Merapi, meskipun aku nggak yakin jika cuaca cerah akan bisa menikmatinya. Karena sejak start etape 3, jurus sakti sudah aku terapkan pandanganku cuma ke jalan dua meter didepan, boro-boro mau tolah toleh lihat pemandangan. Banyak tanjakan tanjakan sadis yang membuat nyeri dilutut kiri lebih sering datang dan makin kuat. Beberapa kali aku berhenti istirahat atau menuntun sepeda. Team evakuasi beberapa kali juga nyamperin, dan menawarkan kalau mau loading. Aku akui panitia penyelengara gowes merdeka ini bagus sekali pengorganisasiannya. Beberapa peserta sudah memanfaatkan fasilitas evakuasi ini, tapi aku bertekad, paling tidak aku harus menyelesaikan etape 3 yang katanya paling berat ini.

Gerimis sudah reda meskipun mendung masih menggantung ketika akhirnya aku sampai di Pit Stop 3. Kulihat masih ada beberapa kawan-kawan AXICBic yang masih istirahat , ada mas Adi Sarjono, pak Tobing dan mas Hari Setyono. Alhamdulillah, etape yang katanya terberat ini berhasil keselesaikan, personal goalku tercapai.
Setelah istirahat aku lanjutkan Etape4 Gowok Sabrang – Selo, sejauh kurang lebih 12 km dengan beda elevasi 500 mdpl, Selo sudah masuk daerah kabupaten Boyolali. Tertatih tatih aku menyusuri etape 4 ini, bagiku ini trek yang paling berat, nyeri lutut kiri makin kuat dan makin sering menyerang. Makin sering juga aku tuntun sepeda. Setelah sampai di check dam lokasi spot yang sering dipakai sebagai tempat foto-foto, aku sudah hamper menyerah, aku mau dievakuasi saja. Tapi mas Hari ngeledekin masak Security nggak kuat katanya. Wah ini masalah marwah, ya sudah aku teruskan, meskipun lebih sering tuntun bike. Sampai suatu titik akhirnya aku nggak sanggup lagi, kira kira 7 km dari Selo aku naikkan sepeda ke pick up panitia evakuasi, dan ikut bersama mereka menuju Selo.

Di Selo disediakan makan siang dengan menu Enthog (sejenis unggas, mirip bebek) rica-rica, terasa maknyuss..mungkin karena kombinasi suasana yang dingin, rasa lapar, capek dan memang lezat…
Cukup lama istirahat di Selo, karena nunggu rombongan kawan-kawan yang saya dahului ketika numpang pick up., sholat Dhuhur sekalian Ashar dimasjid dekat Pit Stop 4.

Melihat profil elevasi yang betul-betul mirip gambar gunung dengan Selo sebagai puncaknya, maka secara teori etape berikutnya akan menurun terus dan ringan meskipun masih sekitar 70 km lagi.
Maka aku putuskan untuk mengenjot lagi sepeda dari Selo – Klaten.

Kuturunkan sepeda dari Pick Up, aku sekarang bersama rombongan terdepan AXICBic, para pembalap seperti PakDhe Rosyid, mas Afif, bang Abrar , pak Tobing. Setelah Selo baru matahari menampakkan sinarnya, perjalanan ini benar benar nikmat, gak perlu genjot, pemandangan bagus sepanjang jalan yang menurun, meskipun tetap harus waspada karena jalanan yang sempit berkelak kelok dan kami cenderung untuk ngebut memanfaatkan gaya grafitasi. Sempat berhenti di beberapa spot yang cantik untuk memenuhi target Kbyte.

Meskipun secara umum menurun tetapi selalu ada juga beberapa lokasi yang landai atau bahkan sedikit nanjak. Saat menemui kondisi seperti itu nyeri lutut kiri kembali datang menyerang, dan kembali mulai tercecer dari kawan-kawan AXICBic. Tertatih- tatih aku menyelesaikan 13 km terakhir Etape5 Selo – Klaten ini. Sesekali ada peserta yang mendahului sambil mengucapkan salam “ Duluan pak”, saya cuma bisa merespon “monggo mas “. Beberapa kali dapat pompaan semangat dari peserta yang ikut di dalam rescue pick up, baik sekedar acungan jempol ataupun teriakan “Ayo pak tetap semangat”.

Sebetulnya aku sempat tergoda juga untuk ikut di rescue, tetapi kubulatkan tekad untuk paling tidak menyelesaikan etape ini. Sudah kuniatkan nanti etape 6, Klaten – Yogja aku akan loading sepeda.

Masuk Pit Stop 5 di alun alun Kabupaten Klaten, disambut pak Dhe Rosyid, “ Ayo…ayo, sini minum minum dulu” .Rencana untuk me Loading sepeda ke pick up, berbelok jadi parkir sepeda di depan warung Es yang merupakan posko panitia. Semua peserta yang sudah sampai berkumpul disana untuk nanti sama-sama berangkat dengan dikawal mobil PJR. “Jam berapa berangkat bang ? tanyaku, “Jam 3 mas” jawab bang Abrar.
Masih ada waktu pikirku, “aku mau kencing dulu”, “dibelakang sana ada masjid, toiletnya bersih, mas “

Betapa terkejut aku sekembali dari Masjid, rombongan besar sudah tidak ada, padahal, jam ditangan belum lagi menunjukkan pukul 3. Hanya tinggal sepedaku saja yang teronggok sendiri didepan warung.. Mau nggak mau musti aku gowes juga etape terakhir Klaten –Yogja yang masih sekitar 27 km.

Foto-foto lain saat finish di Hotel Royal Ambarrukmo
Untungnya Jalur Klaten – Yogja, secara umum menurun, meskipun landa1,setidaknya aku tidak melawan gaya grafitasi, ada tambahan tantangan, mungkin karena sudah berada di atas sadel selama 8 jam maka pantat sudah mulai memar, setiap kali bergeser terasa nyeri.

Akhirnya dengan menjaga pace agar tetap sesuai dengan kondisi fisik aku bisa menyelesaikan etape terakhir Klaten – Yogja, Alhamdulillah pukul 16:30 aku sampai di garis finis, Hotel Royal Ambarukmo….

Read: 78 times.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.