Bersepeda Yogya-Cilacap

Telpon berdering, panggilan jam 01:30 dini hari…ups..dokter Hariyanta yang menelpon, membangunkan, memastikan saya sudah bangun dan bersiap-siap untuk rencana sepedaan hari ini,  Yogya-Cilacap.

Jembatan Pantai Congot
Jembatan Pantai Congot

Foto-foto yang lain di sini

Sekitar jam 02:40 keluar dari rumah di kegelapan pagi dan bertemu dr. Hariyanto di perempatan Monjali, langsung berdua melaju ke tempat janjian memulai perjalanan bersama,  di Paradise jalan Wates.

Gowes kali ini sudah direncanakan dengan sangat baik oleh panitia, sebagai  salah satu group,  sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan Tour  bluxpit d’ Nusakambangan kerja sama antara GaMaGo dan S3 Gama.

soewoek

Diskusi dan wara-wara sudah sangat detail disosialisasikan lewat group WA yang sangat efektif sebagai media komunikasi. Hal-hal yang sudah disiapkan dengan sangat baik antara lain:

  • Daftar peserta tiap group
  • Tempat kumpul masing-masing group dan gambaran besar perjalanan tiap group
  • Apa saja yang perlu dilengkapi di sepedanya, dan apa yang perlu dibawa
  • Fasilitas pendukung, seperti teknisi yang mendampingi, pickup untuk berjaga-jaga jika ada yang loading, dan mobil ambulance lengkap dengan tenaga medisnya
  • Gambaran perjalanan, situasi dan kondisi jalan serta perkiraan waktu tempuh masing-masing segmen

Pak Mus yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, dengan sangat jelas telah memberikan gambaran situasi perjalanan dan perkiraan waktu msing-masing segmen. Meskipun kami yakin, bahwa tidak semuanya akurat 100%, namun gambaran itu sangat membantu untuk bisa membayangkan situasi yang akan ditempuh dan mempersiapkan tenaga dan pikiran untuk melalui tahapan demi tahapan. Menurut saya, informasi-informasi tersebut sangat perlu disampaikan sebelum memulai suatu perjalanan, karena sangat membantu.  Dan hal itu telah dilakukan dengan sangat baik oleh pak Mus. Terima kasih pak Mus dkk.

Tracking Endomondo.com
Tracking Endomondo.com

Cerita sepanjang perjalanan

Perjalanan sebelas orang pesepeda (termasuk satu teman teknisi yang ikut bersepeda juga), didampingi satu mobil pickup dan ambulans beserta dua orang tenaga dokter memulai perjalanan sekitar pukul empat dini hari, berangkat dari Paradise, menyusuri jalan Wates menuju ke Masjid Masyfa Simpang Lima Wates.

Jam empat pagi, tentunya suasana masih gelap, dan sesuai arahan sebelumnya untuk memasang lampu sepeda di belakang dan di depan sangat membantu menyusuri jalanan di saat situasi masih temaram. Kami beruntung, ada beberapa teman yang memasang lampu tambahan yang sangat terang, cukup untuk bisa melihat kondisi jalan di depan. Hal ini sangat membantu kami semua. Meskipun jalan raya Yogya-Wates relative mulus, namun melihat dengan pasti kondisi jalan di depan kita sangat penting, terutama untuk pengguna road bike yang sangat rentan terhadap kondisi jalan.

Tiba di Wates masih subuh, dan teman-teman menunaikan ibadah sholat subuh di Masjid Masyfa Simpang Lima Wates, dan beristirahat sejenak.

Perjalanan kami lanjutkan, kembali masih dalam suasana yang belum padang, menuju perhentian berikutnya di Jembatan Pantai Congot. Jalan menuju pantai Congot juga sangat mulus, dan bisa kami lalui dengan nikmat.

Nah, perjalanan dari Congot melewati jalan Dandles adalah perjalanan yang paling menyenangkan, dengan kondisi jalan yang sangat mulus dan lebar, serta sangat sepi lalu lintasnya. Kami berjalan dengan rata-rata kecepatan 27 km/jam  di jalan mulus tersebut.

Namun, kenikmatan tersebut tidak bisa terus berlanjut, karena ketika memasuki kabupaten Purworejo, kami mulai masuk ke jalan yang kurang bersahabat untuk Road Bike, namun masih nikmat untuk MTB yang dikendarai pak Setyoso, salah satu teman kami, yang mempergunakan MTB di perjalanan ini.

Perjuangan di jalan yang “rusak” terus kami nikmati, meskipun ban belakang saya sempat mbledhos. Sangat beruntung ada mas Sarjianto yang siap membantu, langsung menaikkan sepeda saya ke mobil pickup untuk ditambal, dan gantian saya naik sepeda mas Sarjianto. Hari itu adalah kali pertama saya melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan road bike, dimana sudah bertahun-tahun saya setia menggunakan MTB. Mungkin cara bersepeda saya yang “yak-yak-an”, masih gaya MTB. Perlu ada perubahan mengendarai RB, untuk lebih memilih jalan yang mulus, bukan asal terjang saja seperti saat menggenjot MTB.

Dan perjuangan nikmat sepanjang jalan ini segera terobati setelah sampai di Ambal, sekitar pukul sembilan pagi untuk menikmati Sate  Ambal yang sangat terkenal itu. Satu piring nasi dan satu porsi sate  segera kami libas.

Setelah beristirahat sejenak, sesudah sarapan sate Ambal, perjalanan kembali berlanjut menuju ke rencanaperhentian berikutnya, yaitu obyek pariwisata Pantai Suwuk.  Jalan yang rusak tadi, segera berganti dengan aspal mulus. Dan di sepanjang jalan ini, rasa-rasa pingin istirahat kadang menggoda, namun pimpinan rombongan kami, tahu apa yang seharusnya dilakukan, terus melaju, tanpa menghiraukan ajakan foto-foto teman yang ingin istirahat…hehehehhehe..

Memang tantangan yang paling menarik saat gowes jarak jauh adalah pertempuran dalam diri sendiri antara terus mengayuh dan keinginan istirahat. Dan latihan yang bagus adalah terus mengayuh meski ada keinginan untuk istirahat. Kadang memang ada keraguan, rasa ingin istirahat ini benar-benar karena capek atau hanya secara mental saja ingin istirahat. Di sini menurut saya salah satu perlunya memiliki alat ukur heart beat rate yang bisa memberikan ukuran saat itu juga untuk mengetahui lebih pasti kondisi diri kita dari sisi denyut jantung kita.

Pantai Suwuk, salah satu obyek pariwisata di Kabupaten Kebumen telah kami injak, dan kami beristirahat sejenak menikmati hidangan es kelapa muda di salah satu warung di depan pintu gerbang masuk obyek pariwisata tersebut. Dan ibu penjual es kelapa muda mengingatkan bahwa medan yang akan ditempuh menuju ke Pantai Ayah adalah medan yang sangat berat, dengan tanjakan-tanjakan panjang dan tajam. Nggih-nggih bu, matur nuwun, nanti kami tuntun kalau tidak kuat menanjak.

Dan memang benar, jalur Pantai Suwuk-Karang Bolong-Pantai Ayah merupakan jalur yang sangat luar biasa menantang. Dalam kondisi yang sudah gowes lebih dari 100 km, kami dihadapkan pada tantangan tanjakan yang luar biasa.

Tidak ayal lagi, beberapa kali kami memilih untuk menuntun sepeda kami, bukan hanya di tanjakan, bahkan di jalan yang menurun tajampun kadang kami memilih menuntun. Pilihan terus di atas sadel sepeda atau menuntun saat turunan tajam adalah pilihan pribadi masing-masing, mengukur kemampuan dan nyali diri sendiri.

Saya sendiri setiap melihat jalan yang menurun akan melihat jauh ke depan. Kalau kelihatan di depan jalan naik lagi, saya relatih lebih berani untuk terus naik di atas sadel dengan kecepatan yang relatif tinggi, karena yakin, di depan akan bisa otomatis mengerem sendiri saat jalan menanjak lagi. Namun jika saat jalan menurun di depan, dan saya tidak bisa melihat ujung dari turunan itu, baik karena turunan yang sangat panjang atau setelah itu ada tikungan yang tidak kelihatan, pilihan saya hanya dua. Turun dari sepeda kalau tanjakannya sangat tajam, atau terus naik di atas sadel, tapi dengan terus menerus mengerem sejak awal turunan, untuk memastikan saya berada di kecepatan yang masih bisa saya kendalikan, dalam arti bisa saya berhentikan sepedanya sewaktu-waktu. Dan tentunya tidak lupa, posisi pantat jauh ke belakang, agar beban badan lebih ke roda belakang. Itu yang saya lakukan, kalau ada yang keliru, atau ada teknik/cara yang lebih baik, sangat ingin saya belajar..jangan sungkan-sungkan share yaaaa..ditunggu.

Dan ketika hampir sampai pantai Ayah, pemandangan sangat menawan. Dari atas bukit melihat pantai Ayah jauh di bawah, dan jalan terus menurun menuju ke arah pantai Ayah, sangat mulus, rindang dan nyaman untuk terus mengendarai sepeda. Jalan menurun terus, dan terus perlu waspada, dan kontrol kecepatan pada batas yang saya bisa sewaktu-waktu berhentikan dengan aman dan nyaman. Tiba di pantai Ayah, beberapa teman yang di depan sudah istirahat santai di depan salah satu Masjid di pantai. Dan kami makan siang bersama di pantai Ayah, sebelum melanjutkan sisa perjalanan menuju Cilacap.

Sisa perjalanan dari Pantai Ayah ke Adipala dan ke Cilacap kira-kira sepanjang 50 km berupa jalan aspal mulus, dengan kontur datar. Sangat nikmat untuk dilalui saat kondisi sudah setengah capek. Bersama-sama kami dalam satu rombongan menikmati rute terakhir ini dengan santai. Kadang ada juga yang ingin berjalan lebih cepat, namun ada juga yang ingin santai, termasuk saya, karena memang sudah terasa capek kalau mengayuh dengan kecepatan tinggi. Beruntung jalan sangat mulus dan datar.

Pengalaman yang sangat menyenangkan, bersepeda Yogya-Cilacap, sejauh hampir 180 km dari rumah sampai ke hotel di Cilacap. Berangkat dari rumah sebelum jam tiga pagi, sampai di Cilacap hampir jam lima sore..jossss…Sangat menyenangkan. Terutama beserta teman-teman yang sangat menyemangati, baik dalam awal mengajak bersepeda bersama, saat persiapan dengan memberikan informasi-informasi yang lengkap, maupun sepanjang perjalanan yang saling mendukung dan saling membantu untuk bisa bersama-sama melalui perjalanan ini dengan menyenangkan.

Terima kasih mas Joko Sumiyanto yang mengajak saya ikut serta. Terima kasih pak Mus dan dokter Hariyanto yang memimpin rombongan dengan sangat heroic. Terima kasih mas John, mas Hermawan, mas Indul, mas Yoyok, mas Wisnu yang terus menyemangati, Pak Setyoso yang jossss luar biasa dengan MTBnya dan mas Sarjianto yang selalu siap membantu. Dan tak lupa Mas Mitra dan ibu yang penuh perhatian pagi-pagi melepas rombongan di Paradise. Juga seluruh panitia Tour D’ Nusakambangan yang telah memfasilitasi kegiatan ini dengan baik. Terus semangat.

Read: 55 times.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: