Hits: 0

Jum’at malam, 28 April 2006, bersama mbak Rina kami mendarat di Changi dari Bangkok. Capek pingin cepat tidur. Ups….mau naik taxi, eh antrian nunggu taxi panjang,  berkelok-kelok …. sekitar 30 orang di depan kami, lengkap dengan barang-barang bawaan masing-masing, kopor-kopor, baik yang diseret maupun yang ditaruh di kereta dorong.

473Luar biasa, orang sebanyak itu, bisa rapi antri dengan tenang, hanya diatur oleh satu orang tua…ringkih…..

Suasana antri tenang, rapi dan prediktable. Taxi datang satu, dua, …tiga…antrian maju dengan teratur….orang-orang yang baru turun dari pesawat dan siap untuk ke kota, antri di belakang lagi…..Sangat menyenangkan melihat suasana rapi, teratur dan saling menghargai seperti ini.

Aku berfikir-fikir sambil diskusi dengan mbak Rina, apa yang membuat keteraturan seperti ini bisa membudaya…dan yang kami lihat:

1. Ada infrastruktur yang dibuat, jalur-jalur yang dirancang untuk antrian, dengan lobang-lobang dibeberapa tempat yang bisa diatur tergantung jumlah pengangtri..dan bisa diatur kelok-keloknya dengan mudah, bahkan oleh bapak-bapak tua yang sudah tipissss tenanganya…

2. Ada etika yang sudah jadi budaya, bahwa antri adalah sesuatu yang harus dilakukan…ada pelajaran budaya yang dibiasakan sejak kecil. Aku ingat lebih dari sepuluh tahun yang lalu ketika Mita masuk pertama kali di pre-school di Houston. Hari pertama, semua baris…semua kelas baris, dan masuk kelas satu persatu, urut ke kelas masing-masing….Kemudian saat istirahat, keluar dari kelas, semua baris lagi…keluar dari masing-masing kelasnya baris….satu persatu menuju ke kamar kecil…..luar biasa…..dan itu diteruskan

3. Ada hukum yang tegas ditegakkan, bagi yang tidak mengikuti aturan ada konsekuensi dan denda yang tak bisa ditawar-tawar….

Waktu antri yang lumayan makan waktu, tak terasa lama dan tak menambah capek…

Malam minggu, barusan aku keluar makan di Scoot road…ups..di seberang hotel, ada orang baris-baris satu-satu, tanpa ada infrastruktur yang mendukung, tanpa ada besi-besi untuk mengatur antrian. Merekapun antri untuk menunggu taxi…Ternyata infrastruktur dan budaya sudah ada di kepala dan hati mereka, sehingga tanpa perlu ada infrastruktur fisikpun, antrian tetap bisa dilakukan.

Ada lagi?

Ayo kita budayakan antri….bukan saling ingin mendahului, kita bangsa yang ramah, yang tentunya ingin ramah di semua aspek dan di setiap waktu.

Singapore, Malam minggu, 29 April 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.