Asap dan Anak

“Aku mau main di luar…Aku mau main di luar sekarang!!!!”.

Itu mungkin kata-kata yang banyak kita dengar akhir-akhir ini dari anak-anak kita yang terpaksa terkurung di dalam rumah bersama kita orang tua yang juga lagi tidak enak pikirannya akibat asap yang menyelimuti udara di sekitar kita.

Lalu apa yang kita lakukan, kita beritahu anak kita pelan-pelan tentang kondisi di luar, betapa tidak sehatnya udara di luar pada saat ini, berbahayanya main di luar, kita tunggu sampai asap hilang dan seterusnya……Dan anak kita tetap saja teriak-teriak semakin histeris mau main di luar….
Dan kita terus sabar memberi tahu, menerangkan…….Tapi sampai seberapa lama kesabaran kita?….Rasanya jam weker di kepala kita, atau picu bom waktu kemarahan di kepala kita akan meledak juga…Dan kita marah-marah…Lalu anak kita menangis……Apakah itu yang terjadi di rumah anda ?

Itukah cara yang benar menangani permasalahannya? Kita pasti sepakat, suasana hati kita sedang tidak enak dan sedikit agak tertekan. Dan kita mengharapkan anak-anak kita menuruti kemauan kita untuk duduk diam di rumah, baca buku, atau malah tiduran tidak banyak beraktivitas dsb dsb.

Itu keinginan kita.

Bagaimana keinginan anak kita? Apakah mereka bisa menerima begitu saja keinginan kita tsb? Rasanya kita sepakat, bahwa anak seumur 3 -10 tahun selalu menginginkan kegiatan fisik yang sangat intensif…berlarian, berlompatan.

Di bawah ini adalah pengalaman percakapan yang terjadi dengan anakku saat anakku sudah berada pada puncak kejenuhannya terkurung di dalam rumah.

“Mita mau keluar…sekarang”, teriak anak sulungku.
“Mita, Sekarang udara di luar sedang kotor, banyak asap”, kataku tenang.
“Mita mau keluar..sekarang!!!”, teriak anakku lebih keras lagi.
“Mita, besok pagi, kalau asapnya sudah hilang, Mita boleh main keluar lagi seperti biasa….” Aku masih tenang menjelaskan ke Mita anakku.
“Mita mau keluar..sekarang!!!!”, teriaknya lebih keras dan sudah dicampuri nada-nada marah dan hampir menangis.
Rasanya kesabaranku sudah sampai di puncaknya, dan ‘jam wekker’ di kepalaku sudah hampir berdering untuk mengeluarkan amarahnya. “Mita, sini ibu beritahu, lihat itu di luar….udaranya hitam dan itu kalau masuk paru-paru, Mita bisa sakit, batuk, susah bernafas….” Aku masih coba menjelaskan.
“Mita mau main di luar, sekarang…!!!, anakku masih berteriak di depan jendela kaca ke arah luar.

Wah..rasanya memang itu bukan cara yang benar.

Aku harus mencoba cara yang lain.

Sambil kupeluk Mita anakku yang sedang marah di depan jendela, aku bilang ke dia “ Mita pingin bermain keluar ya…?”.
Dengan cepat anakku menjawab. “Ya..Mita mau main keluar sekarang, Mita sebel di dalam rumah terus”.
Aku berkata lagi “ Mita sebel banget di rumah, dan pingin main sepeda di depan rumah..”.
“Ya,…Mita mau putar-putar sampai ujung jalan sana lima kali”, wajah berkerutnya agak berkurang.
Aku coba lanjutkan lagi ,“Mita naik sepeda di jalan, terus ibu dan bapak main badminton di depan rumah, terus adik main batu di depan”.
Senyum kecil muncul di wajah anakku, “Gimana kalau gini saja , bapak main basket di situ (sambil menunjuk ring basket di samping rumahku), terus ibu boncengin adik pakai sepeda, terus kita sepedaan sama-sama”. Wajah yang jauh lebih ceria tersirat di anakku.
Aku masih coba lagi bicara “Atau gini, kita sepedaan ke taman, terus kita main luncuran di sana”.
Anakku cepat menjawab “Wah…enak sekali..aku mau…aku mau!!!!..eh, tapi bagaimana bu, itu di luar banyak asap, nanti kita bisa sakit……” (NAH LHO….Siapa pula yang tadi teriak-teriak Minta keluar rumah tanpa mau mendengar kata-kata siapapun, sekarang dia sendiri yang mengkhaatirkan dan mengatakan hal itu.)
Aku pura-pura kaget dan bertanya “ Waduh, bener juga ya….Padahal kita pingin main enak-enakan di luar ya……Bagaimana ini enaknya?”.

Wajah anakku kulihat berbinar-binar dan berkata “Begini saja….kita main saja di kamar, Mita sama adik main luncuran di kamar..Ini kasurnya Mita turunin terus bisa jadi luncuran…..”. Nah…begitu cepatnya anak yang tadi mengamuk minta keluar rumah tanpa mau mendengarkan orang lain, sekarang menjadi anak yang memiliki ide sendiri untuk menciptakan mainan di dalam rumah.

Kalau kita baca buku Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional yang ditulis oleh John Gottman, Ph. D dan Joan DeClaire, secara jelas dijelaskan bahwa seorang anak yang sedang marah, dia tidak memerlukan PENJELASAN penuh LOGIKA ( hal yang sering coba orang tua lakukan), tapi dia memerlukan kondisi, bahwa PERASAANNYA dimengerti oleh orang lain. Dan rasanya aku sudah merasakan belajar, bahwa dengan mendengarkan perasaan anakku, mengenali perasaan anakku dengan cara mendengarkan dan menegaskan perasaannya, aku sudah menolong anakku memberi label pada perasaanya dengan kata-kata dan hasilnya aku berhasil menolong anakku memecahkan masalahnya, bukan dengan memberinya jalan keluar, tapi memberinya kesempatan untuk menemukan jalannya sendiri.

Kita memang bisa memilih selalu belajar. Bahkan saat asap ada di sekitar kita.

Read: 75 times.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: